Menuju Masyarakat Literat

97500

Mengapa sebuah masyarakat yang memiliki jalan raya yang baik belum tentu memiliki ruang publik yang sehat? Mengapa akses internet yang semakin luas tidak selalu melahirkan warga yang semakin kritis? Dan mengapa pembangunan yang begitu giat masih sering berjalan beriringan dengan menguatnya disinformasi, polarisasi, dan rapuhnya kepercayaan sosial?
Barangkali selama ini kita terlalu lama memandang pembangunan sebagai urusan menghadirkan infrastruktur fisik. Jalan, jembatan, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, dan jaringan digital memang penting. Semuanya membuka akses, mempercepat mobilitas, dan menghubungkan manusia dengan berbagai peluang baru. Namun, infrastruktur fisik tidak pernah bekerja sendirian. Ia selalu membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sunyi, lebih sulit diukur, tetapi justru menentukan apakah seluruh pembangunan itu benar-benar bermakna bagi kehidupan bersama.
Buku ini mengajak pembaca melihat kembali literasi dari sudut pandang yang berbeda. Literasi sebagai infrastruktur sosial yang memungkinkan masyarakat belajar, berdialog, membangun kepercayaan, mengambil keputusan, dan beradaptasi terhadap perubahan. Tanpa infrastruktur sosial yang kokoh, pembangunan mudah kehilangan arah; kemajuan teknologi dapat berubah menjadi ruang penyebaran disinformasi, sementara limpahan informasi justru melahirkan kebingungan.
Menuju Masyarakat Literat merupakan undangan untuk memikirkan kembali cara kita memahami pembangunan. Sebab, pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil dibangunnya, tetapi juga oleh kemampuan warganya untuk memahami dunia, merawat pengetahuan, dan hidup bersama secara bermakna.


Penulis Ahmad Nurefendi Fradana & Nyoman Suwarta
Dimensi 14x21 cm
Tebal xiii + 235 Halaman
Terbit Agustus 2026
Format Softcover

Politik Pendidikan (Indonesia): Ada Apa?

69500

Pendidikan tidak pernah benar-benar netral. Di balik kurikulum, anggaran, pergantian kebijakan, hingga polemik ujian dan zonasi, selalu ada pertarungan gagasan, kepentingan, dan kekuasaan yang ikut menentukan arah masa depan bangsa. Buku ini mengajak pembaca menyelami relasi yang kerap tersembunyi antara dunia pendidikan dan dunia politik—dua ruang yang sesungguhnya saling memengaruhi sejak republik ini berdiri.
Melalui bahasa yang reflektif namun tetap kritis, buku ini membedah bagaimana pendidikan di Indonesia tidak hanya menjadi sarana mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga arena perebutan pengaruh ideologi, kepentingan ekonomi, hingga proyek kekuasaan. Dari masa kolonial, Orde Baru, hingga era Reformasi dan digitalisasi pendidikan hari ini, pembaca diajak melihat bagaimana kebijakan pendidikan lahir, diperdebatkan, bahkan dipertarungkan.
Dengan merujuk pada pemikiran tokoh-tokoh seperti Paulo Freire, Ivan Illich, Michel Foucault, hingga Ki Hajar Dewantara, buku ini menghadirkan pembacaan yang luas tentang pendidikan sebagai ruang perjuangan sosial, arena demokrasi, sekaligus alat transformasi peradaban. Isu-isu seperti neoliberalisme pendidikan, marginalisasi kelompok miskin dan disabilitas, krisis kepemimpinan, hingga tantangan pendidikan di era digital dibahas secara kontekstual dan dekat dengan realitas Indonesia hari ini.
Buku ini tidak hanya penting bagi akademisi, mahasiswa, guru, dan pengambil kebijakan, tetapi juga bagi siapa saja yang percaya bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh bagaimana pendidikan dikelola hari ini. Sebab pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang diajukan buku ini sederhana namun mendasar: pendidikan Indonesia sesungguhnya sedang diarahkan untuk siapa?


Penulis M. Fazlurrahman Hadi
ISBN 978-602-1261-42-2
QRCBN 62-9613-6549-437
Dimensi 14x21 cm
Tebal 154 Halaman
Terbit Juni 2026
Format Softcover

Strategi Branding

65000

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, pendidikan tak lagi cukup hanya mengajarkan pengetahuan. Ia dituntut menjawab pertanyaan yang mendasar: bagaimana membentuk manusia yang utuh—cerdas, berkarakter, sekaligus mampu bertahan dalam arus perubahan zaman. Buku ini menghimpun beragam praktik baik dari sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kota Surabaya—sebuah mozaik pengalaman yang menunjukkan bahwa pendidikan dapat terus berinovasi tanpa kehilangan arah nilai. Dari ruang kelas yang dirancang menyenangkan, program pembelajaran berbasis proyek, hingga gerakan literasi digital yang berakar pada akhlak, setiap tulisan menghadirkan cara pandang baru tentang bagaimana sekolah dikelola, dibangun, dan dihidupkan. Di dalamnya, pembaca akan menemukan bagaimana teknologi tidak semata menjadi alat, melainkan jembatan untuk menanamkan adab. Bagaimana pembelajaran tidak berhenti pada hafalan, tetapi menjelma pengalaman yang membentuk kemandirian, empati, dan kepemimpinan. Dan bagaimana sekolah, di tengah keterbatasan sekalipun, tetap mampu melahirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Lebih dari sekadar kumpulan strategi, buku ini adalah refleksi tentang ikhtiar—tentang upaya sungguh-sungguh menghadirkan pendidikan yang bermutu, inklusif, dan berkarakter. Sebuah ajakan untuk melihat sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai ruang tumbuh yang menyiapkan generasi masa depan: generasi yang tidak hanya siap menghadapi dunia, tetapi juga mampu memberi arah bagi dunia itu sendiri.


Penulis Amang Muazam, dkk.
Dimensi 14x21 cm
Tebal 231 Halaman
Terbit Maret 2026
Format Softcover

Teacher Exchange Experience

76500

Teacher Exchange Experience: Cerita Pertukaran Guru SD/MI Muhammadiyah Surabaya adalah kumpulan kisah reflektif para guru yang mengikuti program pertukaran mengajar lintas sekolah/madrasah Muhammadiyah Surabaya. Buku ini merekam perjalanan profesional sekaligus spiritual para pendidik yang selama beberapa hari “menjadi tamu” di ruang belajar orang lain, lalu pulang dengan cara pandang baru tentang makna pendidikan.


Penulis A’ida Fitriyati, S.Pd., dkk.
Dimensi 14x21 cm
Tebal 247 Halaman
Terbit Oktober 2020
Format Softcover

Literasi Dasar

59500

Dalam kurun setidaknya satu dasawarsa terakhir, perbincangan perihal topik literasi di Indonesia kian marak. Mula-mula, literasi diidentifikasi sebagai keterampilan baca-tulis, atau yang oleh para sarjana kerap disebut melek aksara atau keberaksaraan.
Pada tahap selanjutnya, terminologi literasi berkembang—dan dikembangkan sedemikian rupa mengikuti pola perkembangan peradaban umat manusia sehingga berakibat pula pada corak istilah literasi pada beberapa dimensi. Dewasa kini literasi acap disandingkan dengan istilah-istilah lain sehingga menemukan terminologi baru, seperti literasi media, literasi keuangan, literasi budaya, bahkan literasi agama.
Kendati demikian, berbagai terminologi baru yang muncul terkait literasi pada akhirnya tetap bertumpu pada satu titik: keterampilan membaca dan menulis sebagai landasan. Pada terminologi literasi digital, misalnya, penguasaan atas ruang lingkup digital berarti keterampilan membaca dan menulis pada ranah digital. Demikian pula halnya keterampilan literasi pada terminologi yang lainnya. Perkembangan terminologi ini rasanya sukar untuk berhenti menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan umat manusia atas tuntutan zaman yang kian hari kian kompleks.
Posisi literasi memiliki peran penting dan krusial sebagai bagian dari pranata hidup umat manusia dalam meniti jalan menuju peradaban. Sehingga, oleh karenanya, ia mutlak dikuasai.


Penulis Ahmad Nurefendi Fradana
ISBN 978-602-1261-43-7
Dimensi 13x20 cm
Tebal 99 Halaman
Terbit September 2023
Format Softcover

Berbahasa Indonesia di Perguruan Tinggi

61000

Tarikh 1928, para tokoh pemuda dari berbagai latar belakang suku dan budaya menggaungkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan Indonesia. Itulah peristiwa Sumpah Pemuda. Setelah kemerdekaan Indonesia—tepatnya pada 18 Agustus 1945, bahasa Indonesia diakui secara yuridis sebagai bahasa persatuan Indonesia.
Bahasa Indonesia, yang cikal bakalnya berasal dari bahasa Melayu, sesungguhnya merupakan bahasa penghubung antaretnis yang mendiami kepulauan Nusantara sejak Indonesia belum merdeka. Selain itu, bahasa Melayu juga menjadi bahasa transaksi perdagangan internasional di kawasan ini yang digunakan oleh berbagai suku bangsa Indonesia dengan para pedagang asing. 
Selain sebagai identitas, bahasa Indonesia kemudian juga menjadi alat pemersatu seluruh elemen bangsa. Keberadaannya menjadi salah satu penanda eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga, bahasa Indonesia dapat dipandang sebagai warisan tak ternilai bagi bangsa Indonesia. Sebab itulah, di perguruan tinggi, bahasa Indonesia menjadi mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa—apa pun prodinya.
Buku ini adalah panduan komprehensif bagi mahasiswa yang ingin menguasai bahasa Indonesia dalam konteks perguruan tinggi. Dengan penekanan pada keterampilan komunikasi akademik, buku ini menawarkan penjelasan yang jelas dan relevan untuk membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia. Ditulis dengan pendekatan praktis, buku ini juga menyediakan materi tambahan dan sumber daya yang berguna untuk meningkatkan pemahaman dan kepercayaan diri mahasiswa dalam menggunakan bahasa Indonesia secara efektif.


Penulis Ahmad Nurefendi Fradana
ISBN 978-602-1261-12-5
Dimensi 14x21 cm
Tebal 141 Halaman
Terbit September 2017
Format Softcover

Bersama Menjaga Bumi

53500

Isu sekitar lingkungan—dengan berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat global, termasuk perubahan iklim, polusi, dan kerusakan keanekaragaman hayati—kian mendesak manusia modern. Indonesia, sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, tidak terhindar dari dampak negatif tersebut. Fenomena seperti banjir, kebakaran hutan, dan pencemaran lingkungan menjadi hal yang acap terjadi, mengancam masa depan manusia dan alam semesta.
Dalam menghadapi tantangan ini, literasi lingkungan muncul sebagai salah satu solusi yang sangat penting. Literasi lingkungan bukan hanya tentang memahami isu-isu ekologis, tetapi juga mencakup keterampilan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil tindakan berdasarkan informasi yang berkaitan dengan lingkungan. Konsep ini melibatkan pemahaman terhadap interaksi antara manusia dan lingkungan serta dampak dari tindakan kita terhadap ekosistem.
Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur, dalam komitmennya untuk memberdayakan perempuan dan anak, menyadari bahwa peningkatan keterampilan literasi lingkungan demikian penting dan genting. Krisis iklim perlu ditanggulangi bersama. Ada banyak langkah yang dapat diambil sebagai bentuk inisiatif. Buku ini salah satunya.

Catatan untuk pembeli!

Penulis Hervina Emzulia, dkk.
Dimensi 14x21 cm
Tebal 188 Halaman
Terbit April 2025
Format Softcover

Wirid Sunyi: Dimensi Sufistik Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono

40000

Salah satu karya Sapardi Djoko Damono yang monumental adalah Hujan Bulan Juni. Kumpulan puisi yang kemudian juga dinovelkan. Lalu difilmkan.
Dengan kepekaan dan wawasan kesastraannya, karya-karya Sapardi Djoko Damono menjadi amat menarik karena selain menyiratkan pesan-pesan ruhani, juga berakar pada tradisi kehidupan sehari-hari, juga banyak mengandung dimensi sufistik. Baik yang tersirat, lebih-lebih yang tersurat.
Sapardi Djoko Damono kerap secara halus menyusupkan ruh sufisme pada karya-karya puisinya. Sehingga, pesan-pesan transendental sesungguhnya dapat kita temui terserak pada tiap sudut baitnya. Puisi transendental merupakan jenis puisi yang tidak mendasarkan dirinya pada persoalan praktis, mempertanyakan makna kata-kata, dan berkutat pada tema semantik bahasa. Puisi transendental membangun dunianya sendiri dan bergelut dalam dunia itu menuju pemenuhan maknanya sendiri. Melalui makna itu, manusia diajak untuk saling berkomunikasi satu sama lain tanpa menggunakan “bahasa”.
Buku ringkas ini berikhtiar untuk mengetengahkan dimensi sufistik pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni.

Catatan untuk pembeli!

Penulis Ahmad Nurefendi Fradana
ISBN 978-602-1261-32-3
Dimensi 13x20 cm
Tebal 99 Halaman
Terbit Oktober 2020
Format Softcover